Pertanyaan:
salam…….@admin
1. Bahwa Yesus tidak mencontohkan pada masa hidupnya tentang tanda salib. Bahkan pasca “kebangkitan”nya belum ada tanda salib yang dia contohkan. Yah, karena memang Yesus tidak mati disalib. Silahkan BACA DISINI
2. Para pengarang Kitab Suci tidak dapat membuat distorsi atas Wahyu Allah yang ditulisnya. Itulah sebabnya, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, pada waktu dan tempat yang berbeda juga, namun dapat menyampaikan inti pengajaran yang sama. Fakta ini malah menjadi bukti nyata bagi keotentikan Kitab- kitab tersebut,,,,,
Jadi adakah termasuk LUPA pada LUKAS.Bagian tesebut = bagi saya adalah bukti tidak otentik=.
3. Sebab kedudukan Kitab Suci tidak lebih tinggi dari Gereja. Gereja (jemaat) adalah Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepalanya
Gereja adalah rumah ibadah.
Kristus adalah imam/pemimpin.
Keduanya berjalan dengan tuntunan KITAB SUCI. Karena Kitab Suci adalah dari Tuhan baik dari sisi mana saja.
Kitab Suci = Gereja dan Kristus maka jika ada perbedaan pendapat dalam suatu perkara, mana yang akan digunakan?
1.Gereja
2.Kitab Suci
3.Gereja yang menafsirkan KS
4.KS berdasarkan tafsir Gereja?
5.Berpikir dalam kerangka KS?
Seperti kasus perceraian. Musa membolehkan, Yesus melarang. Jika saya berselingkuh, maka hukum KS/Gereja mana yang berlaku?
salam
Jawaban:
Shalom Abu Hanan,
1. Yesus tidak benar- benar mati?
Anda memberikan argumen bahwa Tanda Salib tidak diajarkan Yesus karena Yesus sendiri tidak mati di salib, namun Ia hanya ‘mati suri’/ koma. Dalam argumen anda, anda mengatakan hal yang menyebabkan Ia tidak mati adalah karena diberi minum anggur asam (Yoh 19:29), yang mempunyai efek narkotik dan menjadikan Dia koma. Ramuan ini (anda sebut juice tanaman Asclepias Acida) menurut anda adalah buatan kaum Essenes yang mahir dalam hal pengobatan. Selain ini anda juga menyebutkan bahwa orang yang dihukum salib biasanya meninggal perlahan, namun jika ingin dipercepat maka korban dipatahkan kakinya, dan hal ini tidak diperbuat atas Yesus. Prajurit hanya menikam lambungnya dan dari situ keluar air yang deras mengalir, yang menandakan bahwa Ia masih hidup. Maka menurut anda, pada saat Injil mengatakan Yesus ‘kelihatan’ sudah mati, namun sebenarnya belum mati. Jenazah kemudian diturunkan dan diberi rempah- rempah oleh Yusuf Arimatea, Nikodemus dan Magdalena yang sebenarnya adalah obat, sehingga dapat membuatnya bangun/ siuman.
Namun argumen ini sesungguhnya merupakan hipotesa, yang tidak sejalan dengan fakta-fakta berikut ini:
1. Injil Yohanes mengatakan, “Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. (Now there was a vessel (σκεῦος, skeúos) set there, full of vinegar (Douay Rheims Bible). Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.”
Pertanyaannya, mengapa sampai ada bejana anggur asam di tempat para prajurit itu yang menyalibkan Yesus, sehingga mereka mencucukkan bunga karang pada hisop untuk mengunjukkannya ke mulut Yesus? Walau tidak tertulis dalam Injil, sehingga dapat saja orang menduga banyak hal (seperti bahwa minuman itu dibuat dan dibawa ke sana oleh orang- orang Essenes), namun hipotesa yang lebih kuat adalah karena minuman anggur asam (Posca) tersebut merupakan minuman populer bagi para orang Romawi dan Yunani kuno. Minuman itu adalah campuran antara anggur asam/ cuka dengan air dan sari tumbuh- tumbuhan. Sumber yang netral Wikipedia juga mengatakan demikian, bahwa posca yang berasal dari Yunani aslinya adalah campuran untuk obat, namun kemudian menjadi mimuman sehari- hari bagi prajurit Romawi dan orang- orang kelas bawah, sejak abad 2 SM sampai sepanjang sejarah Romawi dan Byzantin. Dalam campuran ini, digunakan kembali anggur yang sudah rusak karena penyimpanan yang kurang baik. Dengan sifatnya yang asam, anggur ini mengandung vitamin C, dapat membunuh bakteri dan aromanya mengatasi bau air bersih lokal. Maka hipotesa bahwa anggur asam ini mempunyai efek membuat orang koma, nampaknya berlebihan. Mengingat bahwa cara memasukkan minuman ke dalam tubuh Yesus juga hanya melalui cucukan bunga karang, sehingga praktis hanya membasahi mulut, nampaknya tidak banyak efek yang bisa diharapkan dari cairan tersebut.
2. Mengapa air dan darah mengalir dengan kuatnya dari lambung Yesus yang ditikam?
Dikatakan dalam Injil Yohanes, “tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan. Dan ada pula nas yang mengatakan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.” (Yoh 19:33-37)
Maka prajurit tersebut menikam lambung Yesus (kemungkinan untuk menikam jantungnya), untuk memastikan agar Dia benar- benar mati. Dari sanalah segera mengalir air dan darah. Fenomena ini memang tidak biasa pada orang- orang yang sudah meninggal, dan ini juga dicatat oleh saksi mata yang melihat sendiri dan memberikan kesaksian itu (lih. Yoh 19:35). A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, ed., menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut: “Ada banyak pandangan untuk menjelaskan hal itu, dan kebanyakan mengatakan bahwa air tersebut merupakan serum tubuh yang terkumpul di pericardium, karena penderitaan yang sangat intens yang diterima Yesus [akibat cambukan, siksa dan aniaya hukuman salib]. Namun apakah alirannya yang keras merupakan mukjizat ataupun dapat dijelaskan secara alami, sebagaimana dikatakan para ahli fisiologis, tidak menjadi penting. Sebab kenyataannya demikian, dan ini dicatat di kitab Injil. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa kedua cairan itu melambangkan Baptisan dan Ekaristi, dan melihat adanya rahmat Tuhan yang mengalir melalui kedua aliran yang dan menghidupkan kembali dan memberi hidup ini, yang melahirkan Hawa yang baru (yaitu Gereja) dari rusuk/ lambung Adam yang baru, yang ‘tertidur’ [sleep of death] di kayu salib.”
3. Rempah- rempah adalah obat dari kaum Essenes yang membangunkan Yesus dari koma?
Wikipedia, mengutip Kittle Gerhardt, mengatakan bahwa ritual pemurnian adalah praktek yang umum dilakukan oleh bangsa- bangsa di Palestina pada abad- abad awal, dan bukan hanya menjadi kebiasaan orang Essenes. (Kittle, Gerhardt. Theological Dictionary of the New Testament, Volume 7. pp. 814, note 99).
Menurut adat orang Yahudi, orang yang wafat harus segera dikubur. Orang Yahudi umumnya menguburkan jenazah dalam kubur batu. Umumnya jenazah dimandikan dan dibungkus dengan kain pengikat. Minyak wangi dan rempah- rempah dapat dikenakan pada jenazah. Injil Yohanes mengatakan bahwa Nikodemus datang ke kubur dengan membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu (myrrh and aloes, lih. Yoh 19:39). Khasiat minyak mur pertama tama adalah sebagai pewangi, sedangkan gaharu adalah untuk mengobati luka. Walaupun ada pula efek medisinalnya, namun adalah suatu hipotesa yang masih harus dibuktikan untuk mengatakan bahwa minyak tersebut dapat membangunkan orang dari koma/ mati suri, apalagi jika diandaikan harus memberi efek relatif segera.
4. Kitab Suci jelas menyatakan bahwa Yesus mati.
Kami umat Kristiani menerima apa yang disampaikan oleh keseluruhan Kitab Suci, dan tidak hanya menerima sebagian ayat dan menolak ayat yang lain. Hal kematian Yesus dicatat di dalam Injil dengan jelas. Sebab walaupun di ayat Mrk 15: 39 memang dikatakan bahwa kepala pasukan “melihat” mati-Nya Yesus, namun ayat sebelumnya mengatakan, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Mrk 15:37, lih. Mat 27:50, Luk 23:46, Yoh 19:30). ‘Menyerahkan nyawa’ adalah perkataan lain (sinonim) dari kata ‘mati’. Injil Lukas mencatat bahwa sebelum menyerahkan nyawa-Nya, Yesus berkata, “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46).
Banyak Bapa Gereja yang mengartikan teriakan nyaring ini pada saat kematian-Nya sebagai indikasi bahwa Ia adalah Tuhan dan bahwa Ia wafat atas kehendak bebas-Nya sendiri. Perkataan yang diucapkan sedemikian menunjukkan bahwa Ia tetap mempunyai kesadaran penuh dan pengendalian diri yang sempurna sampai pada akhir hidup-Nya. Kematian Kristus adalah kematian yang dikehendaki oleh Diri-Nya sendiri: Ia mempunyai kuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya dan memperoleh-Nya kembali (lih. Yoh 10:17-), namun Ia memberikannya demi menyelesaikan rencana Ilahi untuk keselamatan manusia. Kata- kata terakhir-Nya merupakan pernyataan kehendak bebas-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia. Pada saat jam tiga petang, pada saat anak domba paska dikorbankan di bait Allah (yang hanya beberapa yard dari tenpat penyaliban Yesus) menurut ritual Perjanjian Lama, Anak Domba Allah telah wafat (lih. 1 Kor 5:7).
Maka hipotesa yang menyatakan Yesus hanya mati suri ataupun pingsan (tidak sungguh- sungguh wafat) tidak cocok dengan banyak ayat dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Kristus sungguh wafat/ menyerahkan nyawa-Nya.
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci…” (1Kor 15:3)
“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (1Kor 15:20)
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan…” (1Ptr 1:3)
“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh…” (1 Ptr 3:18)
Di atas semua itu, hal kematian Yesus telah berkali- kali dikatakan oleh Yesus sendiri (lih. Mat 17: 22; Mat 20:19; Mat 26:2; Mrk 9:30; Mrk 10:33-34; Luk 18:32).
“Ia [Yesus] berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Mat 17:22)
“Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” (Mrk 9:30)
… kata-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” (Mrk 10:33-34)
“Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit.”
Maka seseorang yang mengatakan bahwa Yesus hanya mati suri, sama saja ia menuduh Yesus berdusta. Bagi kami umat Kristiani, argumen tersebut tidak berdasar, justru karena bertentangan dengan perkataan Yesus yang adalah Sang Kebenaran. Sebab yang mempunyai hipotesa tersebut adalah manusia yang tak luput dari kesalahan, sedangkan yang mengatakan bahwa Yesus wafat dibunuh adalah Tuhan Yesus sendiri, yang tidak mungkin salah. Maka argumen yang mengatakan bahwa Yesus pingsan (yang biasanya didahului gejala berangsur kehilangan kesadaran), juga tidak sesuai dengan kenyataan, karena justru sampai akhirnya, Yesus dengan sadar berseru, bahkan dengan suara lantang, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46).
Bahwa setelah wafat-Nya, ketika lambung Yesus ditusuk oleh tombak, lalu memancarlah air dan darah, juga tidak dapat dikatakan bahwa itu merupakan tanda bahwa Ia masih belum wafat. Sebab keadaan tersebut walaupun langka, dapat diterangkan secara medis, dan dapat pula merupakan tanda supernatural sebagai pemenuhan nubuat yang samar- samar digambarkan dalam Perjanjian Lama. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa seperti Hawa terbentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja (sebagai Hawa yang baru, Mempelai Kristus) terbentuk dari air dan darah yang keluar dari lambung Kristus (Adam yang baru), seperti dikatakan juga oleh Rasul Paulus dalam Ef 5: 24-27.
2. Lukas keliru sewaktu mengatakan bahwa ada nubuatan tentang kebangkitan Yesus di kitab Mazmur?
Tidak, St. Lukas tidak keliru. Ada ayat- ayat dalam kitab Mazmur yang memang menyampaikan nubuat tentang wafat dan kebangkitan Kristus Sang Mesias. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
3. Tentang kaitan Kitab Suci, Gereja dan Kristus
Nampaknya harus diketahui terlebih dahulu, bahwa ada perbedaan antara Gereja dan gereja. Sebab Gereja (dengan huruf besar) artinya adalah jemaat/ ekklesia, sedangkan gereja (dengan huruf kecil) adalah gedungnya. Maka dalam artian Gereja sebagai jemaatlah, kita mengatakan bahwa Kristus adalah Kepalanya. Dengan Kristus sebagai Kepala Gereja, maka tidak dapat dikatakan bahwa kedudukan Kitab Suci berada di atas Kristus dan Gereja, sebab Kristus sebagai Allah Putera itu sendiri lebih tinggi dari Kitab Suci dan tidak terbatas oleh Kitab Suci. Bahwa selama penjelmaan-Nya menjadi manusia, Yesus menaati ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, itu benar, tetapi secara keseluruhan, dalam kodrat-Nya sebagai Allah, Kristus tidak dibatasi atau terbatas dengan apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Kitab Suci sendiri mengajarkan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja (jemaat) dan bukan Kitab Suci itu sendiri, seperti diajarkan oleh Rasul Paulus, “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15).
Oleh karena itu, Gereja Katolik melestarikan semua Wahyu Ilahi yang disampaikan baik dalam Kitab Suci maupun yang diajarkan dalam Tradisi Gereja. Sebab dikatakan di dalam Injil Yohanes bahwa Kitab Suci tidak memuat semua ajaran Yesus, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25). Hal- hal lain/ ajaran yang tidak tertulis dalam Kitab Suci tersebut tetap diteruskan oleh para murid Kristus kepada para penerus mereka untuk dilestarikan. Sebab Rasul Paulus mengajarkan agar Gereja berpegang kepada ajaran- ajaran para rasul baik yang tertulis dalam Kitab Suci, maupun yang tidak tertulis/ lisan (dalam Tradisi Suci), “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15). Maka Sabda-Nya dipercayakan Kristus kepada Gereja, dan Gerejalah yang paling berhak untuk menginterpretasikan Sabda-Nya dengan benar. Keempat Injilpun ditulis berdasarkan ajaran lisan (Tradisi Suci) yang diberikan oleh Kristus kepada para murid-Nya (Gereja), yang kemudian dituliskan oleh Rasul Matius dan Rasul Yohanes, St. Lukas (murid Rasul Paulus) dan St. Markus (murid Rasul Petrus). Itulah sebabnya Gereja Katolik memegang baik Tradisi Suci maupun Kitab Suci, karena keduanya berasal dari sumber yang sama.
Kristus tidak menulis Kitab Suci, namun mendirikan Gereja di atas Rasul Petrus, demikian Sabda-Nya, “Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat (Gereja)-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18); dan Ia berjanji menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 28:19-20). Dengan demikian, Kristus mempercayakan kepemimpinan umat-Nya kepada Petrus dan para penerusnya, yang kini disebut sebagai Magisterium Gereja, yang diberi kuasa untuk mengajar dan mengampuni dosa, yang disebut kitab suci “kuasa untuk mengikat dan melepaskan” (Mat 16:19, Mat 18:18). Kuasa mengajar dalam hal ini adalah dalam hal iman dan moral, sehingga jika terdapat perbedaan pandangan yang berhubungan dengan iman dan moral, yang menjadi acuan adalah ajaran yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci, seperti yang telah ditentukan oleh Magisterium Gereja, yang diberi kuasa oleh Kristus untuk memimpin Gereja. Selanjutnya Magisterium mengeluarkan ketentuan/ peraturan/ hukum Gereja yang sifatnya lebih praktis untuk melaksanakan ajaran iman dan moral tersebut. Jadi di sini terlihat adanya tiga pilar dalam Gereja yang tidak terpisahkan: yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Keterangan tentang hal ini, silakan klik di sini.
Selanjutnya, dalam kehidupan menggereja, para penerus rasul itu adalah Paus dan para Uskup, dan mereka dibantu oleh para imam. Para Uskup memimpin wilayahnya yang disebut keuskupan. Dan untuk penyelesaian praktis yang menyangkut pelanggaran ataupun perkara hukum Gereja, hal itu dapat diputuskan oleh Tribunal keuskupan.
4. Dasar untuk menyikapi perceraian dan perselingkuhan
Dalam Gereja Katolik, tidak diperbolehkan adanya perceraian, (lih. Mat 19:6). Namun adakalanya, perkawinan diadakan padahal tidak memenuhi persyaratan perkawinan yang sah seperti yang disyaratkan oleh hukum Gereja. Jika ini kejadiannya, maka perkara tersebut dapat diajukan ke pihak Tribunal keuskupan, dan jika hal ini dapat dibuktikan, maka Tribunal dapat memberikan ijin pembatalan perkawinan, artinya menyatakan bahwa perkawinan tersebut batal, karena tidak memenuhi syarat sebagai perkawinan yang sah. Pembatalan perkawinan tidak sama artinya dengan perceraian, sebab pembatalan artinya perkawinan itu sudah tidak sah sejak awal (karena halangan/ cacat yang sudah ada sebelum atau sejak hari H perkawinan), dan bukannya sudah sah awalnya, tetapi cerai kemudian karena alasan yang baru terjadi setelah perkawinan. Tentang hal ini, prinsipnya sudah pernah dibahas di sini, silakan klik, dan di sini, silakan klik. Sedangkan jika perkawinan sudah sah diberikan, maka tidak dapat diceraikan. Jika toh ada pihak yang meninggalkan pasangannya yang sah, maka ketentuan yang berlaku adalah keduanya tidak dapat menikah lagi. Hal bahwa dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Musa memperbolehkan perceraian, itu sudah dijelaskan oleh Tuhan Yesus, bahwa hal itu diberikan karena ketegaran hati umat Israel, sedangkan bukan demikian yang pada awalnya ditentukan Allah (lih. Mat 19:8). Dengan demikian, Gereja Katolik mengacu kepada ajaran yang dikehendaki oleh Allah sejak awal mula, seperti yang diajarkan oleh Yesus, yaitu, perkawinan adalah antara seorang laki- laki dan perempuan, dan setelah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia (lih. Mat 19:5-6).
Sedangkan untuk perselingkuhan, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Perselingkuhan adalah tindakan yang melanggar moral namun bukan yuridis, oleh karena itu tidak dikaitkan dengan Tribunal. Kitab Hukum Kanonik mengatur tindakan yuridis, bukan moral baik atau buruk. Pelanggaran moral diselesaikan antara sang peniten di hadapan Tuhan dalam sakramen Pengakuan dosa, dan tentu ia memiliki kewajiban moral untuk tidak mengulanginya lagi ataupun bertanggungjawab untuk perbuatannya jika perselingkuhan itu sampai melahirkan kehidupan yang baru. Dalam menyelesaikan perkara- perkara di atas, baik hal perkawinan, perselingkuhan atau perkara- perkara lainnya, acuan dasarnya tetap Kitab Suci, Tradisi Suci dan ajaran Magisterium Gereja.
Kata ‘Gereja’ memang mempunyai dua makna, yaitu jemaat (dengan huruf besar: Gereja) dan gedung gereja (dengan huruf kecil: gereja). Jika dikatakan Kristus adalah Kepala Gereja, ini adalah dalam pengertian bahwa Yesus adalah Kepala jemaat. ‘Gereja’ yang menafsirkan Kitab Suci juga adalah jemaat, dan bukan bangunan. Gereja Katolik adalah Gereja (jemaat) yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, dan karena Gereja diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar, maka apa yang diajarkan oleh Gereja tidak mungkin bertentangan dengan Kitab Suci.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org




Maaf bu admin jawaban mengenai masalah ini sangat belum memuaskan hati saya entah kenapa? Yang pertama adalah mengapa Maria Magdalena seperti begitu merawat jenazah Yesus seperti merawat orang sakit dan mengapa Maria Magdelana yang setia menemani apakah beliau istri dari Tuhan Yesus? Yang kedua adalah malaikat yang menanyakan buat apa mencari orang yang hidup diantara yang mati, apakah benar-benar ada orang yang belum mati dipekuburan itu? Yang ketiga adalah Yesus selalu meyakinkan bahwa Beliau belum mati dengan mempersilahkan memegang tubuhnya dan memperlihatkan kaki dan tangan bekas luka disalib serta Beliupun makan ikan goreng dan minum layaknya orang hidup? Jawaban dari… Read more »
Shalom Yohanes, Artikel di atas ditulis untuk menanggapi pertanyaan dari pembaca yang menganggap bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh mati. Ia merujuk kepada sebuah situs non-Kristen, yang memberikan argumen bahwa Yesus hanya mati suri/ koma, karena sudah diberi minum anggur asam yang mempunyai efek narkotika.Tulisan di atas kami sampaikan sebagai tanggapan atas argumen tersebut. Yaitu bahwa Yesus tidak mungkin hanya mati suri/ koma di kayu salib, sebab Injil jelas/ secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus “menyerahkan nyawa”-Nya (Mrk 15:37, lih. Mat 27:50, Luk 23:46, Yoh 19:30), yaitu kata sinonim/ persamaan kata dari Yesus wafat. “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46).… Read more »
Buonasera a Tutti, Syalom, Sy barusan baca berita aneh tapi nyata detikislam.com/tsaqofah/paskah-bukan-ajaran-yesus/ Di link itu mgtakan bhw nubuat 3 hari 3 malam di Matius 12:40 tidak sesuai dgn jumlah hari kematian Yesus menjelang bangkit yg hanya 2 malam 1 hari. Di link lain, kalangan Kristen membantah prnyataan itu dgn alasan bhw perhitungan waktu Yahudi saat itu berbeda dgn saat ini. Bagaimana tggpn dari Katolisitas ? Dan jika mmg ada perbedaan waktu, waktu seperti apakah itu ? Kalau boleh disatukan juga (sesuai prnytaan link diatas), apakah benar Paus Benediktus XVI pernah mgatakan bhw kelahiran Yesus bukan tanggal 25 Desember ? Grazie… Read more »
Shalom Wenang,
Silakan membaca terlebih dahulu artikel yang baru saja kami tayangkan, Tentang Hari Wafat dan Kebangkitan Kristus, silakan klik.
Sedangkan tentang pernyataan Paus Benediktus tentang Hari Natal, itu bukan bahwa Paus mengatakan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, tetapi bahwa tahunnya kemungkinan bukan terjadi pada tahun 0, tetapi pada tahun 7-6 sebelum Masehi. Paus Benediktus XVI menuliskannya dalam bukunya, Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative. Tentang hal ini sudah pernah saya ulas, di jawaban saya kepada Putra, klik di sini.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Oh yoi bu Ingrid.
Ternyata hebat juga ilmu pelintir ajaran tetangga sebelah hehehe
Terima kasih bu ….
[Dari Katolisitas: Karena itu ada baiknya, kita memeriksa sumber aslinya, untuk menyikapi berbagai tuduhan dan informasi-informasi yang beredar di sekitar kita, yang tidak semuanya benar].
Isa Al Masih Meninggal di kayu salib? Tepat giliran Isa Al Masih, para serdadu Romawi ternyata tidak mematahkan kakinya. Sebab, mereka menyangka Isa Al Masih telah mati. (lih. Yoh 19:33; Mrk 15:44) Benarkah Isa Al Masih telah mati di kayu salib? Itulah pertanyaan kritis, yang saat itu juga sempat membuat Pilatus terheran-heran. Berdasarkan catatan sejarah dan tinjauan sains, umumnya orang yang disalib baru mengalami kematiannya, minimal 2 hari. Kematian pada kayu salib baru bisa terjadi oleh dua hal: Pertama, oleh infeksi. Dipakunya tangan dan kaki pada kayu salib membuka peluang masuknya kuman ke dalam tubuh. Tanpa perlindungan antibiotika, kuman tersebut… Read more »
Shalom Roqimuqorrobin, Sesungguhnya sebagian dari argumen Anda, sudah pernah disampaikan oleh pembaca yang lain, dan telah pula kami tanggapi. Mohon membaca terlebih dahulu, artikel di atas yang berjudul Apakah Yesus tidak benar-benar mati di salib?, silakan klik, beserta tanya jawab di bawahnya. 1. Yesus tidak mungkin wafat pada hari yang sama dengan hari penyaliban-Nya? Anda berargumen bahwa Yesus tidak mungkin wafat pada hari yang sama ketika Ia disalibkan, dengan alasan bahwa kematian pada kayu salib baru bisa terjadi karena infeksi, biasanya setelah 2-3 hari, atau karena kelaparan dan dahaga, setelah 6-7 hari. Namun argumen ini tidak dapat diterapkan pada Yesus,… Read more »
Menarik sekali pendapat dari Pak roqimuqorrobin terutama mengenai kesimpulan tentang kemungkinan penyebab kematian bagi korban penyaliban yaitu karena infeksi (2-3 hari) atau kelaparan (6-7 hari). Mungkinkah ada penyebab lain selain kedua hal tersebut? National Geographic pernah melakukan percobaan simulasi penyaliban untuk mengetahui apa yang paling mungkin menjadi penyebab kematian seorang korban penyaliban secara medis. Percobaan dibatasi hanya pada simulasi penyaliban tanpa pemberian bentuk stress/siksaan tambahan seperti cambukan atau yang lainnya. Perocabaan itu memberikan kesimpulan bahwa secara medis, beragam sebab bisa menimbulkan kematian bagi korban penyaliban. Mulai dari gagal jantung, drop tekanan darah, sesak napas, shock, rasa sakit, atau gagal mempertahankan… Read more »
YESUS TIDAK MATI DISALIB Fakta εἷς στρατιωτῶν ἔνυξεν πλευρὰν λόγχῃ εὐθὺς αἷμα ὕδωρ ἐξῆλθεν (Greek) eis stratiōtōn enuxen pleuran lonchē euthus aima udōr exēlthen (Translit) But one of the soldiers pierced His side with a spear, and immediately blood and water came out. (NASB ©) tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yohanes 19:34) Keluarnya darah pada ‘mayat’ Yesus ini membingungkan semua penafsir, karena kalau orang hidup ditusuk maka akan keluar darah, dan kalau orang mati ditusuk maka tidak akan keluar apa-apa. Ingat! dia menurut keyakinan kristen adalah 100% manusia… Read more »
berdasar injil Yohanes
Yoh 19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera MENGALIR KELUAR DARAH dan air.
maka SECARA MEDIS …. Yesus tidak mati ketika disalib .
semua darah akan mengalami pembekuan dalam hitungan menit setelah jantung tidak bekerja , Orang mati tidak akan mengalirkan darah ketika ditusuk atau disembelih sekalipun …..
mengalirnya darah dari luka menunjukkan Jantung Yesus masih bekerja memompa darahnya …. lagipula tiga jam di tiang salib tidak akan membunuh siapapun …. penyaliban didesain Romawi untuk membunuh secara perlahan lahan , kematian akan terjadi pada hitungan hari , bukan jam …..
Shalom Cisko Kid, Jika Anda membaca informasi medis tentang apa yang terjadi setelah kematian (lihat Wikipedia), maka dikatakan bahwa beberapa ciri kematian adalah jika tubuh berhenti bernafas, jantung berhenti berdetak, pucat, kaku, darah akan menuju ke bagian tubuh yang rendah (pengaruh gravitasi) dan tubuh terdekomposisi. Hal yang berkaitan dengan darah, sebagaimana dibicarakan di sini adalah bahwa darah akan menuju ke bagian tubuh yang rendah/ terdekat dengan bumi, dan proses ‘pergerakan’ darah ini disebut livor mortis. Seiring dengan livor mortis ini maka bagian tubuh yang terendah akan berubah warnanya menjadi seperti memar/ kemerahan. Tentang livor mortis pada orang meninggal dikatakan demikian:… Read more »
syalom katolisitas,, bagaimana jika ada pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya berada di kayu salib? atau YESUS YANG MANA yang ada di kayu salib? sebab dalam Matius 27:16-17 ada pula orang lain yang bernama Yesus. darimana kita yakin itu adalah Yesus Kristus selain dari kitab suci? dukungan dari catatan sejarah ada tidak? bagaimana dengan argumen ini: Bapa-bapa Rasuli acap kali mencatat bahwa ada banyak kelompok yang tidak sepakat dengan dogma tertentu yang didukung oleh Bapa Rasuli,yang mengajarkan bahwa “kasih” atau penderitaan Yesus di tiang salib adalah tidak benar dan atau hanya ilusi belaka ,dalam hal ini rujukan-rujukan semacam ini bisa ditemukan… Read more »
Shalom Xells, 1. Yesus yang mana yang disalibkan? Orang yang meragukan bahwa Yesus Kristus tidak sungguh disalibkan, atau bertanya ‘Yesus yang mana yang disalibkan?’ dengan mengacu kepada Mat 27:17, adalah orang yang kurang cermat membaca Kitab Suci. Sebab jika ia membaca Kitab Suci dengan teliti, tidak mungkin ia bertanya demikian. Mari kita melihat ayat yang diacu tersebut, dan ayat yang tak jauh sesudahnya, yang menjelaskan siapakah yang akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan disalibkan. Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” (Mat 27:17)….. Tetapi oleh… Read more »
Salam, saya sangat menyadari jika saudara Abu Hanan mengajukan hipotesa klo Yesus tdk benar2 mati disalib krn di Al Qur’an dikatakan ‘Dan perkataan mereka “sesungguhnya kami telah membunuh Isa anak Maryam utusan Allah, sedangkan mereka tdk membunuhnya dan tdk menyalibnya, akan tetapi diserupakan (seseorang) bagi mereka dan sesungguhnya mereka yg berselisih mengenai dia dalam keraguan dari hal itu, tidaklah mereka itu mengetahui kecuali hanya mengikuti sangkaan.”(Q.S.An-Nisa’:157). Saya Katolik tapi sebelum mengetahui ttg ajaran katolik yang baik dan benar, saya banyak melakukan perbandingan dengan apa yang tertulis di kitab suci, dengan informasi- informasi dari pihak lain tentang ayat tersebut; dan dalam… Read more »
Jawaban yg ibu Ingrid sampaikan benar2 lugas, jelas dan sungguh membuat qt sebagai orang Katolik bangga. Mudah2an karya Roh Kudus selalu bekerja dalam diri bu Ingrid, pa Stef dan team Katolisitas semuanya…God bless all..:)
Salut buat Tim Katolisitas, Semoga Karya Kerasulan ini menjadi berkat bagi banyak saudara yg rindu akan KEBENARAN dlm ajaran Gereja yang SATU, KUDUS, KATOLIK dan APOSTOLIK. 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat… Read more »
Bagus sekali jawaban dari Katolisitas.
Yoh 20:29. Yesus berkata kepada Tomas, “Engkau percaya karena engkau melihat Aku. Betapa bahagianya orang yang tidak melihat, namun percaya.
Tuhan Yesus memang Jalan, Kebenaran dan Hidup.
@admin.. Terima kasih telah menerbitkan pertanyaan saya. Tetapi ; 1. Saya keberatan ketika LINK yang saya maksudkan tidak dapat diakses. [Dari Katolisitas: mungkin waktu itu ada kesalahan teknis, tetapi sekarang sudah dapat diakses] 2. Namun argumen ini sesungguhnya merupakan hipotesa, yang tidak sejalan dengan fakta-fakta berikut Fakta yang anda sampaikan adalah berdasarkan ayat KS. Bagaimana anda mengatakan benda yang berisi anggur adalah bejana? 3. Dari sanalah segera mengalir air dan darah. Fenomena ini memang tidak biasa pada orang- orang yang sudah meninggal, dan ini juga dicatat oleh saksi mata yang melihat sendiri dan memberikan kesaksian itu (lih. Yoh 19:35) Ada… Read more »
Shalom Abu Hanan, 1. Sudah dapat diakses.2. Fakta yang kami sampaikan memang mengambil dasar dari ayat Kitab Suci, sebab kami percaya bahwa yang tertulis dalam Kitab Suci adalah fakta. Pertanyaan anda: Bagaimana anda mengatakan benda yang berisi anggur adalah bejana? Kami mengacu kepada bahasa aslinya, yaitu kata Yunani σκεῦος, skeúos pada Yoh 19:29, yang dapat diterjemahkan menjadi a vessel (Douay Rheims dan King James Version) atau a jar (New American Bible) atau a bowl (Revised Standard Version) full of vinegar; sehingga dapat diterjemahkan menjadi sebuah bejana, atau setoples, atau semangkuk penuh anggur asam. Tidak menjadi masalah apakah wadahnya, tetapi isinya… Read more »
Abu Hanan yang saya (lebih tepat: kami) kasihi. saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari teori obat anda hipotesis anda ttg ada senyawa kimia yang dapat menidurkan seseorang, membuatnya tidak merasakan nyeri, tak bergerak hingga ke titik yang tidak dapat dibedakan dengan mati kemudian “korban” diberikan senyawa yang dapat menetralkan semua efek tersebut sehingga memberikan sulapan kebangkitan. dengan penuh rasa hormat, saya ingin katakan hal tersebut tidak mungkin semua yang mempelajari ilmu pengobatan akan mengerti bahwa: 1. Hukum utama obat, semakin poten (kuat) semakin beracun (memiliki efek samping). bahkan yang membedakan obat dan racun hanya dosis. pada dosis terlalu… Read more »
salam pak aleksander
terima kasih atas perhatian dan kepedulian anda.
Bahasa anda benar2 menunjukkan seseorang yg dekat dengan Tuhan.
@admin katolisitas
Terima kasih atas segala perhatian dan semoga admin/para pengunjung web selalu berada dalam kedamaian.
salam
Shalom..
Karena di website ini tidak ada tombol “like” nya, two thumbs up dah buat katolisitas…^_^
Syalom Ibu Inggrid.
Saya senang sekali membaca Katolisitas, dan bagaimana cara Ibu dan pak Stef dalam memberikan jawaban tentang Katolik kepada umat agama lain. Katolisitas mampu memberikan jawaban yang sangat jelas dan dengan cara yang sangat santun dalam menjawab berbagai pertanyaan, yang sering kali disampaikan sangat jauh dari kesantunan.
Dengan demikian Ibu dan Bapak telah memberikan bukti nyata, bagaimana seseorang yang telah mengenal Tuhan bersikap, tetap santun dan lembut, namun jelas dan tegas.
Sekali lagi saya haturkan terima kasih dan salam damai selalu untuk Bapak dan Ibu.
salam…….@admin 1. Bahwa Yesus tidak mencontohkan pada masa hidupnya tentang tanda salib. Bahkan pasca “kebangkitan”nya belum ada tanda salib yang dia contohkan. Yah, karena memang Yesus tidak mati disalib. Silahkan BACA DISINI 2. Para pengarang Kitab Suci tidak dapat membuat distorsi atas Wahyu Allah yang ditulisnya. Itulah sebabnya, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda- beda, pada waktu dan tempat yang berbeda juga, namun dapat menyampaikan inti pengajaran yang sama. Fakta ini malah menjadi bukti nyata bagi keotentikan Kitab- kitab tersebut,,,,, Jadi adakah termasuk LUPA pada LUKAS.Bagian tesebut = bagi saya adalah bukti tidak otentik=. 3. Sebab kedudukan Kitab Suci tidak… Read more »